TR4 Menyusuri Lereng Malaka, Lahan Pegunungan Jadi Titik Awal Pacul Tanah Gratis

 

MALAKA, MalakaNews.com – Dari balik perbukitan Malaka, suara mesin perlahan mulai memecah sunyi. Traktor roda empat (TR4) kembali bergerak, membawa harapan baru bagi para petani yang menanti tanah mereka disentuh, dibalik, dan disiapkan menyambut musim tanam.

Pemerintah Kabupaten Malaka melalui program pacul tanah gratis 2026 mulai melepas armada TR4 menuju sejumlah kecamatan. Untuk tahap awal, lahan-lahan pertanian di wilayah pegunungan mendapat prioritas sebelum pelayanan bergerak turun menuju kawasan dataran rendah atau Fehan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Malaka, Laurensius Bere, mengatakan sebanyak sembilan unit TR4 telah didistribusikan ke enam kecamatan. Armada tersebut mulai menjalankan tugasnya untuk membuka dan mengolah lahan masyarakat.

Enam kecamatan yang menerima distribusi awal yakni Botin Leobele satu unit, Malaka Timur tiga unit, Rinhat satu unit, Laenmanen dua unit, Sasitamean satu unit, dan Io Kufeu satu unit.

“Traktor sudah dilepas dan dikirim ke beberapa kecamatan,” ujar Laurensius, Rabu (26/8/2026).

Pilihan untuk mendahulukan wilayah pegunungan bukan sekadar urutan perjalanan. Di sana, di antara lereng dan tanah kering yang menunggu hujan, petani lebih dahulu membutuhkan sentuhan mesin agar lahan mereka siap ditanami.

Dari tanah yang keras, pemerintah berharap tumbuh kehidupan. Dari lahan yang selama ini menunggu, diharapkan muncul kembali semangat petani untuk menanam dan memanen.

Sementara itu, Kecamatan Kobalima dan Kobalima Timur masih menunggu ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite untuk mendukung operasional TR4. Pemerintah memperkirakan pengiriman traktor bersama BBM dapat dilakukan pada Selasa pekan depan.

Program pacul tanah gratis tahun 2026 tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 3.000 hektare lahan kering yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Malaka. Puluhan unit traktor roda empat disiapkan untuk menopang program tersebut.

Kini, mesin-mesin itu mulai berjalan menuju ladang-ladang petani.

Bukan sekadar roda yang berputar di atas tanah, tetapi sebuah ikhtiar untuk menghidupkan kembali harapan. Sebab bagi petani, tanah bukan hanya hamparan yang menunggu bajak—ia adalah tempat menggantungkan hidup, tempat benih dititipkan, dan tempat masa depan keluarga tumbuh perlahan.

Di lereng-lereng Malaka, musim tanam mulai ditulis kembali. Dan kali ini, suara mesin TR4 menjadi bagian dari cerita tentang tanah, petani, dan harapan yang tak boleh padam.