Anak Petani dari Perbatasan Belu, Regina Olo Raih Gelar Magister di UST Yogyakarta

BELU, MALAKANEWS.COM – Kisah inspiratif datang dari wilayah perbatasan. Regina Olo, S.Pd, putri seorang petani asal Desa Debululik, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, resmi dinyatakan lulus sidang tesis Program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta pada 31 Januari 2026.
Regina merupakan anak keempat dari enam bersaudara, pasangan Dominikus Hasuk, seorang petani, dan Kunera Naek, ibu rumah tangga. Latar belakang keluarga sederhana tidak menjadi penghalang bagi Regina untuk terus berjuang menempuh pendidikan hingga jenjang magister.
Dalam keterangannya kepada media ini, Regina mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut merupakan buah dari kerja keras orang tuanya selama bertahun-tahun.
“Pencapaian ini adalah hasil dari tetesan keringat Bapak di kebun dan doa tulus Ibu di rumah. Tanpa mereka, saya tidak mungkin sampai di titik ini,” ujar Regina dengan haru.
Regina juga mengakui bahwa dukungan keluarga menjadi faktor utama dalam perjalanannya menempuh studi di Yogyakarta. Kakak dan adik-adiknya turut berperan besar, baik secara moril maupun materiil, sehingga ia bisa fokus menyelesaikan pendidikan.
“Saya anak keempat dari enam bersaudara. Keberhasilan ini bukan hanya milik saya, tapi milik seluruh keluarga kami,” tambahnya.
Riwayat Pendidikan Regina Olo
Perjalanan pendidikan Regina Olo terbilang panjang dan penuh perjuangan, dimulai dari sekolah dasar di desa hingga menempuh studi magister di Yogyakarta:
SDK Nualain II (2007–2013)
SMPK St. Yoseph Weluli (2013–2016)
SMAN 1 Weluli (2016–2019)
S1 Pendidikan IPA, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (2019–2023)
S2 Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta (2024–2026)
Lebih dari sekadar pencapaian akademik, keberhasilan Regina adalah simbol harapan bagi anak-anak petani di pelosok perbatasan. Ia ingin membuktikan bahwa garis hidup tidak ditentukan oleh tempat lahir, tetapi oleh keberanian untuk bermimpi dan ketekunan untuk berjuang.
“Saya ingin membuktikan bahwa anak petani pun punya hak yang sama untuk sukses. Jangan pernah merasa rendah karena lahir dari keluarga sederhana. Justru dari situlah kita belajar arti kerja keras, kesabaran, dan ketulusan,” ungkap Regina.
Dengan suara bergetar, Regina menyampaikan pesan yang paling ia harapkan bisa sampai ke hati generasi muda di desa-desa terpencil.
“Untuk adik-adik saya, anak-anak petani di perbatasan, jangan takut bermimpi. Mungkin hari ini kita masih membantu orang tua di kebun, berjalan kaki ke sekolah, dan hidup serba terbatas. Tapi kalau kita terus belajar dan tidak menyerah, suatu hari kita bisa berdiri di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” tuturnya.
Kisah Regina Olo menjadi bukti nyata bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis. Dari kebun kecil di perbatasan Belu, lahir seorang magister yang membawa harapan baru—bahwa pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang mengubah nasib keluarga dan membuka jalan bagi generasi berikutnya..**(EL)






