Dari Dokter ke Lapangan Hijau: Di Bawah Tangan Dingin dr. Dhion Bria Seran, Tunas Muda PS Malaka Terus Menembus Mimpi Besar

 

Malaka, Malakanews.com – Dari ruang medis tempat ia mengabdi sebagai dokter, hingga lapangan hijau tempat anak-anak Malaka mengejar bola, Dr. Dhion Bria Seran kini menjadi sosok yang perlahan mengubah arah sepak bola muda di Kabupaten Malaka. Di balik laga uji tanding PS Malaka All Star U-17 melawan SKO Kupang di Lapangan Betun, Minggu (10/5/2026), tersimpan kisah tentang tangan dingin seorang tokoh yang tak sekadar hadir menonton, tetapi sedang menuntun mimpi generasi muda ke jalan yang lebih jauh.

Di pinggir lapangan, Dr. Dhion berdiri tenang, memandangi setiap gerakan para pemain muda dengan sorot mata penuh harapan. Dari seorang dokter yang terbiasa merawat kehidupan, ia kini seperti merawat cita-cita baru: menjadikan sepak bola sebagai jembatan masa depan anak-anak Malaka. Rumput hijau itu bukan sekadar tempat bertanding, tetapi ladang tempat ia menanam harapan yang suatu saat ingin dituai sebagai kebanggaan daerah.

Perjalanan itu bukan tanpa bukti. Tahun lalu, di bawah tangan dingin Dr. Dhion Bria Seran, anak-anak PS Malaka berhasil menuju pentas nasional, membawa nama daerah ini melampaui batas yang selama ini terasa jauh. Dari tanah kecil di selatan NTT, mereka melangkah dengan kepala tegak, menunjukkan bahwa Malaka memiliki bakat yang mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Keberhasilan itu menjadi jejak bahwa mimpi besar dapat tumbuh jika ada sosok yang percaya dan mau bekerja dalam diam.

Bagi Dr. Dhion, sepak bola bukan hanya urusan menang atau kalah. Ia adalah ruang membangun mental, disiplin, dan karakter. Seperti dokter yang sabar merawat pasien hingga sembuh, Dhion juga merawat potensi anak-anak Malaka dengan ketekunan. Ia memahami bahwa talenta saja tidak cukup; butuh arahan, latihan, dan keyakinan agar anak-anak desa bisa berdiri sejajar di panggung besar.

Pada laga malam itu, PS Malaka All Star U-17 tampil menekan sejak awal dan sempat unggul 2-0 atas SKO Kupang. Di tengah sorak penonton yang memenuhi sisi lapangan, Dr. Dhion tetap berdiri di tepi rumput, menyaksikan dengan serius. Kehadirannya seperti pesan sunyi bahwa pertandingan ini bukan sekadar uji coba, melainkan satu anak tangga menuju impian yang lebih tinggi.

Ketika SKO Kupang bangkit dan menyamakan skor menjadi 2-2, wajah Dr. Dhion tetap tenang. Ia tidak melihat hasil akhir sebagai segalanya. Dalam setiap tekanan, ia ingin para pemain muda belajar bahwa jalan menuju pentas besar selalu diwarnai jatuh dan bangkit. Dari situlah mental juara ditempa.

Beberapa kali Dr. Dhion terlihat memberi arahan dari pinggir lapangan. Suaranya mungkin tidak selalu terdengar oleh penonton, tetapi pesannya jelas bagi para pemain: terus berjuang dan jangan takut bermimpi. Dari Lapangan Betun yang sederhana, ia sedang menyiapkan anak-anak Malaka untuk menatap lapangan-lapangan yang lebih besar di luar sana.

“Pertandingan ini menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi Turnamen Soeratin Cup di Kupang,” ujar Dr. Dhion Bria Seran. Kalimat itu singkat, namun di baliknya ada peta jalan panjang. Ia sedang menyiapkan generasi yang tak hanya bermain untuk hari ini, tetapi untuk masa depan sepak bola Malaka.

Malam di Betun itu menjadi saksi. Di bawah cahaya lampu lapangan, seorang dokter berdiri di pinggir rumput hijau, menjaga nyala mimpi anak-anak Malaka agar tidak padam. Dan selama tangan dingin Dr. Dhion Bria Seran terus bekerja, bukan mustahil dari tanah kecil ini akan lahir pemain-pemain besar yang membawa nama Malaka terus bergema hingga pentas nasional.**##/

 

Editor : Eky luan