Data Pendidikan Mulai Dibenahi, Lima Kecamatan Jadi Langkah Awal Pemkab Malaka
MalakaNews.com – Pendidikan tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, papan tulis dan deretan bangku. Di balik itu semua, ada angka-angka yang harus jujur bercerita tentang wajah sekolah.
Ada sekolah yang kekurangan fasilitas. Ada ruang belajar yang membutuhkan perhatian. Ada kebutuhan guru dan sarana pendidikan yang harus dibaca dengan tepat.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Malaka mulai membenahi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebagai salah satu langkah untuk memastikan kebijakan pendidikan tidak berjalan berdasarkan perkiraan, tetapi bertumpu pada kenyataan di lapangan.
Tahap awal pembenahan data tersebut menyasar satuan pendidikan jenjang SD dan SMP di lima kecamatan, yakni Malaka Timur, Botin Leobele, Io Kufeu, Sasitamean dan Laenmanen.
Sejumlah kepala sekolah, baik negeri maupun swasta, dikumpulkan bersama staf Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka untuk mencermati kembali kondisi serta kebutuhan masing-masing sekolah.
Di titik inilah data menjadi lebih dari sekadar angka.
Data harus mampu bercerita.
Ia harus mampu menunjukkan sekolah mana yang membutuhkan perhatian lebih dahulu, fasilitas apa yang mendesak, dan kebutuhan apa yang tidak boleh lagi tertinggal di balik lembar administrasi.
Pelaksana Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka, Jefrinus Adelberth Seran Sonbay, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa pemutakhiran dilakukan agar data pendidikan benar-benar menggambarkan kondisi aktual sekolah.
Sebab, ketika data keliru, arah kebijakan pun bisa meleset.
Sebaliknya, ketika data disusun dengan benar, pemerintah memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menentukan skala prioritas pembangunan pendidikan.
Wakil Bupati Malaka Hendri Melki Simu memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Langkah ini kemudian mendapat disposisi dari Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, MPH, sebagai bagian dari perhatian pemerintah terhadap pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.
Pembenahan Dapodik akhirnya bukan sekadar pekerjaan administratif.
Ini adalah upaya membaca wajah pendidikan Malaka dari dekat.
Dari sekolah-sekolah di pelosok, dari kebutuhan anak-anak yang setiap pagi datang membawa harapan, hingga para guru yang berdiri di depan kelas dengan segala keterbatasan yang ada.
Lima kecamatan menjadi langkah pertama.
Namun harapannya lebih jauh: seluruh sekolah di Kabupaten Malaka dapat memiliki data yang benar, mutakhir dan sesuai kenyataan.
Sebab membangun pendidikan tidak cukup hanya dengan membuat perencanaan di atas meja.
Pemerintah harus tahu apa yang terjadi di sekolah, agar setiap kebijakan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Dan dari data yang jujur itulah, masa depan pendidikan Malaka diharapkan mulai ditata—perlahan, tetapi pasti.**##//
Editor : Eky luan
