Jarak Dipisah Air, Harap Tetap Sampai: Lambaian SBS untuk Numbei

Malaka, MalakaNews.com – Pagi itu di Kakaniuk, tak jauh dari Nunbei, sebuah kali membentang seperti garis sunyi yang memisahkan dua harap. Airnya mengalir, membawa jarak yang tak kasat mata—membuat yang dekat terasa jauh, dan yang ingin bertemu harus menahan rindu.
Di satu sisi, Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), berdiri menatap seberang. Di sisi lain, masyarakat Nunbei berkumpul, menunggu dengan mata yang tak lepas memandang.
Tak ada jembatan yang bisa dilalui pagi itu. Yang ada hanya bentangan air yang masih banjir, menahan langkah siapa pun yang ingin menyebrang. Namun, harapan tak ikut hanyut.
Tangan-tangan mulai terangkat dari Nunbei—lambaian yang sederhana, tapi penuh makna. Sebuah isyarat bahwa mereka ada, menunggu, berharap bisa lebih dekat dari sekadar pandang.
Dari Kakaniuk, SBS membalas. Tangannya terangkat tinggi, menembus jarak yang tak bisa ia lintasi dengan langkah. Di antara arus yang masih kuat, lambaian itu menjadi penghubung yang paling jujur—antara pemimpin dan rakyatnya.
Tak ada jabat tangan. Tak ada sapaan dari dekat. Hanya suara yang harus melintasi derasnya kali, dan harap yang menggantung di antara dua tepi.
“Nanti, setelah jembatan ini selesai, saya akan datang dan bertemu langsung dengan masyarakat Nunbei,” ucapnya, suaranya mengalir, mencoba sampai ke seberang.
Kalimat itu jatuh pelan, namun menggema lama. Sebab yang dijanjikan bukan sekadar kunjungan, melainkan pertemuan yang selama ini tertunda oleh alam.
Dan harapan itu kini tidak lagi menggantung terlalu lama. Ia sudah punya waktu, punya arah—menuju bulan Mei, saat jembatan gantung itu ditargetkan rampung. Di sanalah janji akan menemukan jalannya, dan pertemuan tak lagi harus menunggu air surut.
Jembatan gantung yang kini dibangun bukan hanya soal beton dan baja. Ia adalah jalan pulang bagi kebersamaan—penghubung antara suara yang selama ini hanya saling dipanggil dari kejauhan.
Selama puluhan tahun, masyarakat Nunbei hidup dengan cara mereka sendiri untuk melawan keterpisahan—menyebrang dengan risiko, atau sekadar menunggu. Hari itu, mereka kembali dihadapkan pada kenyataan yang sama: ingin bertemu, tapi tangan tak sampai.
Namun kali ini berbeda. Karena di ujung penantian itu, sudah terlihat sebuah kepastian—bahwa ketika jembatan itu rampung di bulan Mei nanti, bukan hanya orang yang akan menyeberang.
” Tetapi juga janji yang akhirnya sampai.
EDITOR : EKY LUAN






