Seruan Damai dari Tanah Kaputu: Bupati SBS Gaungkan Pesan Kasih, Hindari Konflik di Malam Sabtu Aleluya”

 

Malaka-malakanews.com”- Di bawah langit malam yang hening dan penuh cahaya iman, suasana khusyuk menyelimuti Gereja Paroki Santo Yohanes Pemandi Kaputu, Kecamatan Sasitamean, kaputu(4/4/2026).

Dalam permenungan Sabtu Aleluya yang sarat makna, Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS), menyampaikan seruan damai yang mengalir lembut, namun menggema kuat di hati umat.

Dalam keheningan yang seakan berbicara, Bupati SBS mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan damai sebagai jalan hidup. Baginya, kehidupan tanpa konflik bukan sekadar harapan, tetapi sebuah panggilan moral yang harus dijaga bersama—seperti cahaya lilin Paskah yang tetap menyala di tengah kegelapan.

Menurutnya, Sabtu Aleluya bukan hanya tentang menanti kebangkitan, tetapi juga saat yang tepat untuk memurnikan hati—melepaskan amarah, menahan diri, dan menumbuhkan kasih yang tulus dalam kehidupan sehari-hari.

“Hiduplah selalu bersama dalam damai dan hindari konflik,” pesan Bupati SBS, dengan nada yang sederhana namun sarat makna, layaknya seruan gembala kepada umatnya.

Dalam refleksi yang mendalam, ia juga menyoroti peran penting keluarga dan dunia pendidikan sebagai fondasi utama pembentukan karakter generasi muda. Ia mengingatkan bahwa damai tidak lahir begitu saja, tetapi ditanam sejak dini—di rumah, di sekolah, dan dalam setiap relasi kehidupan.

“Kepada orang tua dan para guru, bimbing anak-anak kita agar tidak mencari masalah, tetapi tumbuh dengan nilai damai,” ungkapnya penuh harap.

Bupati SBS meyakini, lingkungan yang dipenuhi kasih dan bimbingan yang bijak akan melahirkan generasi yang kuat—bukan dalam amarah, tetapi dalam kesabaran; bukan dalam konflik, tetapi dalam persatuan.

Generasi yang mampu menahan diri, berpikir jernih, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan.

Ibadat Sabtu Aleluya yang dipimpin oleh Pastor Paroki, Romo Erwin Yohanes Asa, Pr, berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Setiap doa yang dipanjatkan, setiap nyala lilin yang diangkat, menjadi simbol harapan baru—bahwa dari keheningan lahir kekuatan, dan dari iman tumbuh kedamaian.

Momentum ini menjadi lebih dari sekadar perayaan liturgi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan batin, tempat manusia diajak kembali menemukan makna kemanusiaan, merajut persaudaraan, dan meneguhkan komitmen untuk hidup dalam damai di Kabupaten Malaka.

Di Kaputu, malam itu, seruan damai tidak hanya terdengar—ia hidup, ia berakar, dan ia menunggu untuk diwujudkan dalam setiap langkah kehidupan.**##//

 

Editor : Eky luan