Wabup HMS: Jabatan Bukan Mahkota yang Dipamerkan, Melainkan Amanah yang Harus Dijaga dengan Kesungguhan dan Ketulusan

Malaka, Malakanews – Di antara langit yang diam dan bumi yang tetap berputar, sebuah pesan dilontarkan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk mengguncang kesadaran. Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), berdiri di hadapan para pejabat yang baru dilantik, membawa kalimat yang sederhana namun mengandung daya guncang: jabatan bukan mahkota untuk dipamerkan, melainkan amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban—bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan waktu dan nurani.

Di Hasan Maubesi, Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Sabtu (11/4/2026), prosesi pelantikan pejabat eselon 2b, eselon 3a, dan eselon 3b berlangsung dalam kesunyian yang terasa berat. Bukan karena sepi, tetapi karena setiap yang hadir seakan memahami—bahwa hari itu bukan sekadar pergantian posisi, melainkan awal dari ujian yang tak terlihat, yang hanya bisa dijawab dengan kerja dan kejujuran.

Dalam arahannya, HMS tidak sekadar berbicara, ia seperti mengiris kenyamanan yang sering menyelimuti jabatan. Ia menegaskan bahwa ambisi tanpa kerja adalah kehampaan, dan jabatan tanpa pengabdian hanyalah topeng yang perlahan akan runtuh oleh waktu. Sebab pada akhirnya, yang palsu tak akan mampu bertahan lama di hadapan kenyataan.

“Bekerja dengan baik, bekerja dengan hati. Jangan mau untuk dapat jabatan, tetapi setelah diberikan, kerjanya tidak baik,” tegasnya—sebuah peringatan yang terdengar tenang, namun menggema keras bagi siapa saja yang mencoba bermain-main dengan tanggung jawab.

Ia juga mengingatkan bahwa jalan seorang pejabat tidak boleh dibelokkan oleh kepentingan pribadi. Aturan bukan sekadar tulisan, melainkan pagar yang menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan. Ketika aturan ditinggalkan, maka yang tersisa hanyalah kekacauan yang perlahan menggerogoti kepercayaan.

Lebih jauh, HMS menegaskan bahwa tujuan dari setiap jabatan adalah pelayanan. Jika rakyat tidak merasakan manfaat, maka jabatan itu hanyalah ruang kosong yang dipenuhi kesia-siaan. Sebab kekuasaan yang tak melahirkan kebaikan, pada akhirnya hanya akan meninggalkan penyesalan.

“Yang akan dikenang bukan jabatan yang disandang, tetapi apa yang diperbuat,” menjadi pesan yang seakan berbisik, namun menghantam keras dalam diam.

Pelantikan ini pun menjadi cermin yang tak bisa dihindari. Di dalamnya, setiap pejabat melihat bayangan dirinya sendiri—apakah akan menjadi pemegang amanah yang setia, atau sekadar penikmat jabatan yang perlahan dilupakan. Sebab waktu tidak pernah salah menilai, dan sejarah tidak pernah lupa mencatat.**##//

 

Editor : Eky luan