Bupati SBS Wujudkan Rindu 81 Tahun, Jembatan Nunbei Akhirnya Berdiri
Malaka, Malakanews.com — Ada rindu yang tidak pernah benar-benar hilang. Rindu untuk menyeberang tanpa takut, rindu untuk terhubung ketika air bah datang, dan rindu agar pembangunan suatu hari benar-benar mengetuk pintu kampung sendiri.
Kamis, 20 Agustus 2026, rindu panjang itu menemukan jawabannya.
Jembatan Gantung Nunbei di Dusun Nunbei, Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, diberkati melalui Misa Kudus yang dipimpin langsung oleh Yang Mulia Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, didampingi Pastor Deken Malaka bersama sejumlah pastor.
Di hadapan masyarakat Nunbei dan Kakaniuk, jembatan sepanjang 120 meter dengan lebar 2 meter itu bukan sekadar infrastruktur. Ia menjadi tanda bahwa harapan yang bertahun-tahun disimpan akhirnya menemukan jalan.
Di balik berdirinya jembatan tersebut, kepemimpinan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS) kembali mendapat sorotan. Sebab pembangunan bukan hanya tentang beton, besi, kabel dan anggaran, tetapi tentang bagaimana sebuah kebijakan mampu menyentuh kehidupan masyarakat yang selama puluhan tahun menunggu akses yang aman.
Bagi warga Nunbei dan Kakaniuk, jembatan itu adalah jawaban atas sebuah penantian panjang.
Selama bertahun-tahun, sungai menjadi batas. Ketika musim hujan tiba dan air bah mengalir deras, perjalanan masyarakat terhenti. Anak-anak kesulitan ke sekolah, hasil kebun sulit dibawa keluar, dan aktivitas warga harus berhadapan dengan risiko keselamatan.
Kini, batas itu perlahan berubah menjadi jalan.
Dalam momentum tersebut hadir Bupati Malaka, Wakil Bupati Malaka, Ketua Pengadilan Negeri Atambua, Dandim 1605/Belu, Kapolres Malaka, Ketua DPRD Malaka, Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II DPRD bersama para anggota dewan, pimpinan OPD, camat, kepala desa, para kepala puskesmas se-Kabupaten Malaka, tokoh masyarakat serta warga Nunbei dan Kakaniuk.
Bupati Stefanus Bria Seran dalam sambutannya mengingatkan bahwa membangun memang penting, tetapi menjaga hasil pembangunan jauh lebih penting.
“Membangun ini gampang, tetapi memelihara ini yang sulit,” tegas Bupati.
Karena itu, Camat Malaka Tengah, Kepala Desa Kateri dan Kepala Desa Kakaniuk diminta memastikan jembatan tersebut dirawat secara berkelanjutan.
Bupati juga meminta disiapkan empat orang penjaga, masing-masing dua orang di sisi Nunbei dan dua orang di sisi Kakaniuk, dengan diberikan insentif sebagai bentuk penghargaan atas tanggung jawab mereka.
Aturan penggunaan jembatan pun harus ditaati. Kendaraan roda tiga maupun kendaraan yang lebih besar tidak diperbolehkan melintas, sementara kendaraan roda dua masih diperkenankan.
Pesannya jelas: pembangunan tidak boleh hanya menjadi perayaan sehari. Ia harus menjadi manfaat yang bertahan lintas generasi.
Sebab jembatan ini bukan sekadar tempat orang menyeberang.
Di atasnya kelak anak-anak berjalan menuju sekolah. Petani membawa hasil kebun. Keluarga bertemu. Aktivitas ekonomi bergerak. Dan ketika hujan turun deras, masyarakat tidak lagi harus menatap arus sungai dengan kecemasan yang sama seperti masa lalu.
Dalam sambutannya, Bupati juga menggambarkan betapa panjangnya penantian masyarakat Nunbei. Sejak masyarakat mendiami wilayah tersebut, bahkan sejak Indonesia merdeka 81 tahun silam, baru pada momentum ini mereka merasakan salah satu wajah kemerdekaan dalam bentuk akses yang nyata.
Kemerdekaan itu bukan hanya merah putih yang berkibar.
Kemerdekaan juga adalah ketika seorang anak dapat pergi ke sekolah tanpa takut menyeberangi arus deras.
Ketika seorang ibu dapat membawa hasil kebun tanpa menunggu air surut.
Ketika sebuah kampung yang dahulu terasa jauh akhirnya terhubung dengan kampung di seberangnya.
Di situlah makna pembangunan terasa.
SBS dan HMS tidak hanya meletakkan sebuah jembatan di atas sungai, tetapi menghadirkan sebuah penghubung antara masa lalu dan masa depan.
Masa lalu yang penuh penantian.
Masa depan yang membawa harapan.
Dan hari ini, ketika Uskup Atambua bersama para imam memberikan doa dan berkat, jembatan itu seakan menerima pesan untuk dijaga bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan kesadaran bersama.
Karena empat penjaga yang kelak berdiri di dua sisi jembatan bukan sekadar menjaga kabel, besi dan lantai.
Mereka menjaga hasil pembangunan.
Mereka menjaga keselamatan masyarakat.
Dan mereka menjaga sebuah warisan agar tetap dapat dilalui anak-anak Nunbei dan Kakaniuk hingga anak cucu mereka.
Jembatan Gantung Nunbei akhirnya berdiri.
Bukan hanya sebagai penghubung dua wilayah, tetapi sebagai simbol bahwa pembangunan harus menemukan jalannya sampai kepada mereka yang selama ini menunggu.
Setelah 81 tahun kemerdekaan, Nunbei akhirnya memiliki cerita baru.
Sebuah cerita tentang rindu yang tidak lagi hanya dipendam.
Sebuah cerita tentang harapan yang akhirnya menemukan bentuk.
Dan sebuah cerita tentang jembatan yang hari itu bukan sekadar dibangun, tetapi diberkati—agar tetap menjadi jalan bagi kehidupan, bagi persaudaraan, dan bagi masa depan masyarakat Nunbei dan Kakaniuk.
Sebab kadang, wajah kemerdekaan tidak datang dalam pidato panjang. Ia datang dalam bentuk sebuah jembatan—yang membuat orang akhirnya bisa menyeberang dengan tenang.**##//
Editor : Eky luan






