Dari Malaka Menyusuri Flores, Tujuh Tenaga Medis Bawa Harapan di Tengah Duka

 

ENDE, MalakaNews.com – Ketika Flores sedang berduka, Malaka memilih untuk tidak hanya mengirim doa. Tujuh tenaga medis menempuh perjalanan panjang menuju Pulau Flores, membawa satu pesan sederhana: kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah.

Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 13.00 WITA, rombongan tenaga medis dari Kabupaten Malaka tiba di Kabupaten Ende. Kedatangan mereka menjadi bagian dari misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Mereka datang bukan dengan tangan kosong. Ada ilmu yang dibawa, ada tenaga yang disiapkan, dan ada kepedulian yang tumbuh dari tanah Malaka untuk saudara-saudara di Flores.

Ketujuh tenaga medis tersebut merupakan bagian dari relawan kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malaka). Mereka terdiri atas tiga dokter dan empat tenaga kesehatan yang siap memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.

Mereka adalah dr. Tya, Mona, Liken, dr. Febi, Ns. Kim, Bdn. Icha, dan dr. Sinyo.

Setelah tiba di Ende, mereka tidak berlama-lama. Langkah mereka kembali bergerak menuju sejumlah pusat pelayanan kesehatan yang telah ditentukan.

dr. Tya ditempatkan di Puskesmas Maurole. Mona dan Liken bertugas di Puskesmas Embusobo. Sementara dr. Febi, Ns. Kim, dan Bdn. Icha ditempatkan di Puskesmas Welamosa.

Sedangkan dr. Sinyo ditugaskan di Puskesmas Roga.

Di tempat-tempat itulah pengabdian mereka dimulai. Menyentuh warga yang membutuhkan pertolongan, memeriksa mereka yang terluka, dan menghadirkan ketenangan di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih dari guncangan bencana.

Perjalanan tujuh tenaga medis ini juga menjadi bukti bahwa solidaritas tidak berhenti pada kata-kata.

Sebelumnya, PMI bersama masyarakat Kabupaten Malaka telah menyalakan Seribu Lilin di Kota Betun. Cahaya lilin itu menjadi simbol doa dan kepedulian bagi masyarakat Flores yang sedang menghadapi bencana.

Kini, cahaya itu bergerak lebih jauh.

Dari Betun menuju Flores. Dari doa menuju pengabdian. Dari kepedulian menuju tindakan nyata.

Tujuh orang berangkat membawa profesinya, tetapi yang mereka bawa sesungguhnya jauh lebih besar: harapan.

Sebab ketika bencana datang dan meninggalkan luka, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi juga kehadiran orang-orang yang bersedia berkata:

“Kami datang untuk membantu. Kami tidak membiarkan kalian sendiri.”

Dari Malaka untuk Flores.
Satu perjalanan, satu kemanusiaan, dan sejuta harapan.**##//

 

Editor : Eky luan