Jejak Pengabdian dan Hati yang Setia: Ziarah Bupati Malaka di Pusara Tokoh Perdana

 

Malaka, Malakanews.com –

Di antara sunyi yang merambat pelan di Desa Kapitan Meo, Kecamatan Laenmanen, Sabtu (4/4/2026), seorang pemimpin memilih menundukkan dirinya—bukan karena lemah, tetapi karena tahu cara menghormati jejak yang telah lebih dulu menoreh sejarah.

Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), melangkah dalam hening menuju pusara almarhum Drs. Daniel Asa, Wakil Bupati definitif perdana Kabupaten Malaka. Ziarah ini bukan sekadar kunjungan, melainkan perjumpaan batin antara masa kini dan masa lalu—antara kekuasaan dan ketulusan, antara jabatan dan ingatan.

Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Malaka, Beatrix Yasinta Bria Seran, serta para pejabat dan pendamping pembangunan, SBS berdiri dalam diam yang penuh makna. Di hadapan pusara itu, waktu seakan meluruhkan segala hiruk pikuk dunia, menyisakan kesadaran paling jernih: bahwa setiap kekuasaan pada akhirnya akan kembali menjadi kenangan.

Ziarah ini menjadi simbol penghormatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga filosofis—sebuah pengakuan bahwa pembangunan sebuah daerah tidak lahir dari satu tangan, melainkan dari jejak panjang pengabdian banyak insan yang rela memberi tanpa pamrih.

Dalam momen penuh refleksi itu, SBS menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna kepada keluarga almarhum:
“Menjaga kebersihan makam adalah wujud penghormatan kita kepada almarhum yang telah mengabdi bagi daerah ini.”

Kalimat itu mungkin terdengar ringan, namun sesungguhnya mengandung kedalaman nilai—bahwa menghormati yang telah tiada bukan hanya melalui kata, tetapi melalui tindakan yang terus hidup. Di situlah tampak hati seorang pemimpin: tidak hanya berpikir tentang masa depan, tetapi juga setia merawat kenangan.

Almarhum Drs. Daniel Asa sendiri dikenal sebagai Wakil Bupati definitif perdana Kabupaten Malaka, yang terpilih bersama SBS dalam Pilkada 2015. Mereka adalah pasangan awal yang menjadi fondasi berdirinya pemerintahan Kabupaten Malaka sebagai daerah otonom—sebuah fase penting dalam sejarah yang tak dapat dipisahkan dari nama dan pengabdian beliau.

Lebih dari itu, almarhum juga merupakan tokoh penting dari daerah pemilihan tiga, yang meliputi lima kecamatan, dengan kontribusi nyata dalam pembangunan dan pelayanan masyarakat. Jejaknya tidak hanya tertulis dalam dokumen pemerintahan, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya.

Namun di balik semua itu, ziarah ini menghadirkan pesan yang lebih dalam: bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya diukur dari apa yang ia bangun, tetapi dari bagaimana ia menghargai mereka yang telah lebih dahulu berjuang.

SBS, dalam diamnya di hadapan pusara, seakan mengajarkan satu hal yang sederhana namun jarang dimiliki: bahwa hati yang besar adalah hati yang mampu menunduk—menghormati, mengenang, dan merawat nilai-nilai kemanusiaan.

Di sana, di antara tanah dan doa, tersirat sebuah kebenaran yang tak lekang oleh waktu:
bahwa jabatan akan berlalu, tetapi ketulusan dan penghormatan akan selalu menemukan jalannya untuk abadi.