Likurai dan Hase Hawaka Sambut Bupati SBS, Wabup HMS dan Uskup Atambua di Jembatan Gantung Numbei

 

MalakaNews.com — Denting gong, hentakan kaki penari Likurai, dan sapaan adat menyatu dalam sebuah penyambutan yang sarat makna. Kamis (20/8/2026), masyarakat Kakaniuk dan Numbei menyambut kedatangan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran (SBS), Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS), serta Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr. dalam momentum peresmian Jembatan Gantung Numbei, Kabupaten Malaka.

Sejak rombongan tiba, suasana adat dan budaya langsung terasa. Para tetua adat bersama masyarakat berdiri menyambut dengan penuh hormat. Tarian Likurai bergerak mengikuti irama tradisi, seakan menjadi ungkapan sukacita atas hadirnya para pemimpin di tengah masyarakat.

Penyambutan kemudian dilanjutkan dengan pengalungan, sebuah simbol penghormatan sekaligus tanda penerimaan terhadap para tamu yang datang membawa harapan pembangunan bagi masyarakat.

Tak berhenti di sana. Para tetua adat juga melaksanakan prosesi Hase Hawaka, tradisi yang menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat setempat. Dalam suasana khidmat, pesan-pesan adat dan penghormatan kepada para tamu disampaikan sebagai bentuk penerimaan yang tulus.

Di tengah suasana adat yang kental itu, hadir pula Tuan Rumah Pembangunan, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Malaka Lorens L. Haba, serta Ketua DPRD Kabupaten Malaka Adrianus Bria Seran, S.H., bersama seluruh anggota DPRD Kabupaten Malaka.

Setelah seluruh rangkaian penyambutan adat selesai, rombongan kemudian diarak bersama menuju lokasi utama kegiatan.

Langkah kaki para pejabat, tokoh adat, tokoh masyarakat, para undangan dan warga menyatu menuju tenda tempat Misa Pemberkatan Jembatan Gantung Numbei dilaksanakan.

Tidak ada jarak pada perjalanan itu.
Pemerintah berjalan bersama rakyat. Gereja berjalan bersama masyarakat. Para tetua adat berjalan bersama para pemimpin daerah.

Di sepanjang perjalanan, wajah-wajah masyarakat memancarkan antusiasme. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah seremoni, tetapi menjadi saksi sebuah perubahan yang selama ini dinantikan.

Jembatan Gantung Numbei hadir membawa harapan baru. Sebuah akses yang diharapkan mampu memudahkan mobilitas masyarakat, memperlancar aktivitas sehari-hari, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi kehidupan sosial dan ekonomi warga.

Kehadiran Bupati SBS, Wakil Bupati HMS, Uskup Atambua, pimpinan dan anggota DPRD, Dinas PUPR serta jajaran Pemerintah Kabupaten Malaka semakin menambah khidmat momentum tersebut.

Namun lebih dari sekadar kehadiran para pejabat, hari itu menjadi ruang perjumpaan yang indah antara pemerintah, Gereja, tokoh adat dan masyarakat.

Semuanya bertemu dalam satu suasana: kebersamaan dan rasa syukur.
Likurai telah menari.

Hase Hawaka telah ditunaikan.
Pengalungan telah menjadi tanda penerimaan.

Dan langkah kaki masyarakat telah mengantar para tamu menuju tempat di mana doa akan dipanjatkan untuk sebuah jembatan yang menghubungkan dua sisi kehidupan.

Dari adat menuju altar.
Dari budaya menuju doa.
Dari harapan menuju pembangunan.
Rangkaian penyambutan adat kemudian dilanjutkan dengan Misa Pemberkatan Jembatan Gantung Numbei, sebelum memasuki agenda utama peresmian.

Bagi masyarakat Kakaniuk dan Numbei, hari itu bukan sekadar sebuah acara pemerintahan.

Ia adalah hari ketika budaya menyambut pembangunan, iman memberkati harapan, dan masyarakat menyaksikan sebuah jembatan berdiri sebagai tanda bahwa jalan menuju masa depan kini semakin terbuka.**##//

 

Editor : Eky luan