Bupati SBS: Kritik Boleh Datang, Kerja untuk Rakyat Malaka Tak Boleh Berhenti
MalakaNews.com, Betun — Di tanah Malaka yang merah oleh sejarah dan hangat oleh harapan rakyat, suara-suara berbeda terus tumbuh di tengah perjalanan pembangunan. Ada tepuk tangan yang menguatkan, ada kritik yang mengingatkan, dan semuanya menjadi bagian dari perjalanan sebuah daerah mencari jalan terbaik menuju masa depan.
Di tengah suara yang beragam itu, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran (SBS) memilih untuk tidak larut dalam perdebatan. Baginya, seorang pemimpin tidak boleh berhenti melangkah hanya karena jalan yang ditempuhnya dipenuhi sorotan.
“Silakan kritik, pemerintah tetap bekerja untuk rakyat,” tegas SBS dalam Toast Kenegaraan di kediamannya, Haitimuk, Desa Haitimuk, Kecamatan Weliman, Senin malam, 17 Agustus 2026.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab di balik setiap kritik, selalu ada harapan agar pemerintah menjadi lebih baik; dan di balik setiap sorotan, ada mata rakyat yang sedang menunggu sebuah perubahan menjadi nyata.
Bagi SBS, kritik bukanlah tembok yang harus dirobohkan dengan kemarahan. Kritik dapat menjadi cermin tempat pemerintah melihat wajahnya sendiri, menemukan bagian yang masih kurang, lalu membenahinya dengan kerja yang lebih sungguh-sungguh.
Sebab pemerintahan bukan panggung untuk mempertahankan siapa yang paling benar. Pemerintahan adalah ladang pengabdian, tempat setiap kebijakan seharusnya tumbuh menjadi manfaat dan setiap janji perlahan menjelma menjadi kenyataan.
Karena itu, SBS mengajak seluruh jajaran pemerintah untuk tidak mudah berkecil hati ketika mendapat kritikan. Biarlah suara datang seperti angin dari berbagai arah, tetapi langkah pemerintah tetap menuju satu tujuan: rakyat.
Jalan pembangunan mungkin tidak selalu mulus. Ada batu yang harus disingkirkan, ada kekurangan yang harus diperbaiki, dan ada pekerjaan yang belum selesai. Namun justru di situlah ukuran sebuah pemerintahan diuji—bukan ketika semuanya berjalan sempurna, tetapi ketika mampu bangkit dan memperbaiki yang belum sempurna.
Rakyat Malaka tidak hanya menunggu kata-kata indah dari para pemimpinnya. Mereka menunggu jalan yang semakin baik, pelayanan yang semakin dekat, pendidikan yang semakin diperhatikan, kesehatan yang semakin mudah dijangkau, serta pembangunan yang benar-benar menyentuh kehidupan mereka.
Rakyat akhirnya akan menilai bukan dari kerasnya suara, tetapi dari nyata atau tidaknya kerja.
Dalam suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pesan itu terasa semakin berarti. Merah Putih yang berkibar bukan hanya lambang kemerdekaan, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan harus diisi dengan kerja, pengabdian, persatuan dan keberanian memperbaiki kehidupan masyarakat.
Malaka membutuhkan kebersamaan lebih besar daripada perbedaan. Kritik boleh menjadi warna dalam demokrasi, tetapi jangan sampai perbedaan warna membuat kita lupa bahwa tanah ini adalah rumah bersama dan rakyat adalah alasan utama mengapa pemerintahan hadir.
Maka, ketika kritik datang, biarlah pemerintah mendengarnya. Ketika sorotan muncul, biarlah menjadi bahan evaluasi. Dan ketika rakyat berharap, biarlah harapan itu dijawab dengan kerja yang nyata.
Sebab kritik bisa selesai dalam sebuah perdebatan, tetapi hasil kerja akan tinggal lebih lama dalam ingatan rakyat.
Dari Haitimuk, SBS menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna: pemerintah tidak boleh kehilangan arah hanya karena suara yang berbeda. Pemerintah harus tetap berdiri, tetap mendengar, dan tetap bekerja.
Kritik boleh datang seperti hujan. Sorotan boleh datang seperti angin. Tetapi langkah untuk rakyat harus tetap berjalan.
Karena pada akhirnya, seorang pemimpin tidak dikenang karena seberapa banyak ia membungkam kritik, tetapi karena seberapa jauh ia mampu mengubah amanah menjadi kerja dan kerja menjadi manfaat bagi rakyat.
Malaka terus melangkah. Rakyat terus berharap. Dan pemerintah, sebagaimana pesan SBS, harus tetap bekerja untuk rakyat.**##//
Editor : Eky luan






